Menaker Yakin Indonesia Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Oleh admin
Rabu, 24 Oktober 2018 21:46:44 Klik: 116 Cetak: 140 Kirim-kirim Print version download versi msword
Klik untuk melihat foto lainnya...

 KOMPAS.com - Menteri Ketenagakerjaan ( Menaker) M Hanif Dhakiri meyakini, melalui kerja sama semua pihak, Indonesia akan mampu bertahan menghadapi era Revolusi Industri (RI) 4.0 dengan segala peluang dan tantangannya.

 
Kata Menaker, hal ini sama persis ketika dahulu Indonesia memasuki RI 1.0, RI 2.0 dan RI 3.0. Kala itu, pada walnya banyak respon kekhawatiran, namun pada akhirnya negeri ini bisa bertahan dan melampauinya.
 
“Demikian pula menghadapi revolusi industri 4.0, semua orang heboh. Tapi saya yakin at the end juga bisa survive. Hanya masalahnya tahapan RI 1.0 hingga RI 3.0, berjalan lebih predictable karena waktunya lebih panjang, “ ujar Hanif dalam siaran pers yang Kompas.com terima.
 
Hanif sendiri mengatakan itu dalam acara Conference regional bertema ”Workshop 4.0 The Fourth Industrial Revolution, Digitalization & Work 4.0 – A Right To Training?” di Jakarta, Selasa (16/10/2018).
 
Lebih lanjut, Menaker mengatakan, untuk menghadapi RI 4.0 dan konsekuensi yang muncul di tingkat industri, pekerjaan, dan skills yang dibutuhkan harus bekerja sama dengan semua pihak.
 
 
Maka dari itu, dalam skema perlindungan tenaga kerja di masa depan, pemerintah, industri dan serikat pekerja, dunia usaha, LSM, dan perguruan tinggi harus mengatasinya secara bersama.
 
“Semua pihak harus ngepung persoalan ini sehingga investasi sumber daya manusia (SDM) bisa merespon perubahan-perubahan yang begitu cepat terjadi," kata Hanif.
 
Hanif menjelaskan RI 4.0 sederhananya adalah proses produksi di seluruh dunia yang mengkombinasikan tiga unsur penting, yakni manusia, mesin atau robot, dan big data.
 
Kombinasi tiga unsur itu akan menggerakkan seluruh produksi menjadi lebih efisien dan lebih cepat dan lebih massif.
 
Namun, Hanif tak mengelak, perkembangan teknologi informasi yang cepat dan massif  berimplikasi terjadinya RI 4.0.  Kemudian konsekuensinya sejumlah pekerjaan akan terbunuh dan sejumlah pekerjaan lain akan tercipta.
 
“Tak semua orang menyadari ada pekerjaan-pekerjaan akan hilang, tapi di lapangan sudah banyak menemukan pekerjaan yang dulu ada sekarang tiba-tiba menjadi tidak ada. Lalu muncul pekerjaan-pekerjaan baru, “ katanya.
Adanya RI 4.0 diakui Hanif, juga akan mengubah banyak hal termasuk perubahan di tingkat industri yang bertransformasi karena proses produksinya berubah.
“Ini juga belum banyak disadari termasuk oleh serikat pekerja, LSM, dan dunia usaha,“ katanya.
 
Ketika proses produksi berubah kata Hanif, maka proses bisnisnya juga berubah. Contohnya isu job security. Dalam dunia sekarang ini, pasti konsepnya juga berubah dan responnya juga berubah.
 
Hanif menambahkan hingga saat ini pemerintah terus melakukan pemetaan pekerjaan di masa depan. Terutama pada sektor dan profesi yang tumbuh serta berkembang. Pemetaan juga dilakukan pada sektor yang tak lagi relevan.
 
Ketika pekerjaan berubah, Hanif mengatakan maka berubah adalah tuntutan skills-nya. Hal ini kemudian menjadi pekerjaan besar karena ketika tuntutan skills-nya berubah, maka skema pendidikan dan pelatihan pun seharunya berubah. 
 
"Banyak perguruan tinggi yang didirikan pada masa Belanda dan sebelum kemerdekaan, hingga hari ini fakultasnya masih sama, sementara pekerjaan sudah berubah. Jadi fakultas baru dan kejuruan baru muncul, tapi kejuruan lama masih ada. Belum lagi kecepatan skills, “ katanya.
 
Untuk itu, Hanif menegaskan isu pelatihan vocational training (vokasi) perlu mendapat perhatian penting karena memiliki kelenturan dalam mendorong perubahan skills di masyarakat.
 
“Vokasi menjadi bagian institusi yang perlu dikembangkan kurikulumnya untuk dapat bersaing sesuai dengan kebutuhan pasar,“ katanya.
 
Sementara itu, Deputi Kordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, Kementerian Koordinaor Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Tubagus Achmad Choesni mengatakan, RI 4.0 akan ditandai dengan pengembangan industri yang digerakkan oleh teknologi dan perubahan ekonomi berbasis platform.
 
"Artinya selain peningkatan produktivitgas kualitas produksi, tapi juga memerlukan tenaga kerja yang lebih adaptif," kata Tubagus yang juga jadi pembicara di acara tersebut. 
 
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menaker Yakin Indonesia Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/16/203500926/menaker-yakin-indonesia-siap-hadapi-revolusi-industri-4.0. 
 
Editor : Mikhael Gewati
 
Berita Berita Terkini Lainnya
. LSP bangkit lagi
. BNSP: Google Rekrut Pegawai Tanpa Ijazah, tapi Sertifikat Profesi

Fatal error: Cannot redeclare themerightarticle() (previously declared in /home/lspsmk4/public_html/themes/lspsmk4/theme.php:132) in /home/lspsmk4/public_html/themes/lspsmk4/theme.php on line 132